Diet Plastik, UMKM Batik di Bondowoso Ini Gunakan Kemasan Besek

Home / Gaya Hidup / Diet Plastik, UMKM Batik di Bondowoso Ini Gunakan Kemasan Besek
Diet Plastik, UMKM Batik di Bondowoso Ini Gunakan Kemasan Besek Kemasan produk Ijen Batik Tamanan Bondowoso menggunakan besek (FOTO: Ijen Batik for TIMES Indonesia)

TIMESBONDOWOSO, BONDOWOSO – Terobosan yang dilakukan oleh UMKM Ijen Batik di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur sangat solutif. Demi meminimalisasi penggunaan plastik, kemasan produknya menggunakan besek.

Penggunaan besek ini dimulai sejak bulan Agustus kemarin. Yakni semenjak mendapatkan pesanan dari KPU kabupaten/kota se-Jawa Timur.

UMKM-Batik-2.jpg

Owner Ijen Batik, Andriyanto mengatakan, ke depan, penggunaan kemasan besek ini untuk batik premium dan pengiriman luar kota dan luar negeri.

“Penggunaan besek ini untuk mengurangi plastik dan print-printan. Biasanya saya melihat penggunaan packing selama ini menggunakan prinan terus ada plastiknya juga. Kita go green,” katanya pada TIMES Indonesia, Jumat (13/9/2019).

Pertama ide itu muncul, kata dia, saat sering melihat jajanan tape Bondowoso yang menggunakan besek. Kemudian dia berpikir untuk menggunakan kemasan dari besek.

“Selama ini di Bondowoso tape kan mayoritas pakai besek. Sekalian kan untuk mengenalkan tape, karena di Bondowoso besek identik dengan tape,” jelas pria kelahiran 1993 ini.

UMKM-Batik-3.jpg

Selain mengurangi sampah plastik, penggunaan besek juga membawa untung bagi pengrajin besek. “Karena kita memesan pada pengrajin, tepatnya di Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk besek ini dipastikan aman ketika pengiriman ke luar kota atau ke luar negeri. “Karena selain besek ada pengamannya juga,” sambungnya.

Dijelaskan Andri, bahwa Ijen Batik ini mulai berdiri sejak Juli 2017. UMKM ini berbasis di Desa Kemirian Kecamatan Tamanan.

“Untuk pemesanan keluar negeri kita sudah kirim ke Hongkong, Australia, dan California,” akunya.

Meskipun tempat produksinya ada di desa. Namun dia memanfaatkan promosi di media sosial.

“Berkat medsos juga, wisatawan dari luar negeri beberapa kali pernah datang ke tempat produksi,” jelasnya.

Diakui Andri, bahwa pihaknya juga pernah diwadahi pemerintah untuk buka lapak di online. Yakni di Belanja.com, Tokopedia, dan BukaLapak.

Namun untuk batik harus PO, dan yang ready hanya bertahan satu minggu, dan dua minggu paling lama. “Jadi yang lebih maksimal di media sosial,” paparnya.

Sampai saat ini, Ijen Batik Bondowoso mempekerjakan 35 orang. Itu karyawan tetap yang setiap hari kerja. “Pemberdayaan masyarakat sekitar, yang juga terdiri dari ibu-ibu,” ujarnya.

Bahkan desain UMKM Ijen Batik Tamanan Bondowoso ini, juga pernah dipakai Menpora dan Presiden Jokowi di SEA Games 2018 kemarin. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com