Perjuangan Panjang H Syamsul Tahar, dari Jurnalis Menjadi Anggota DPRD Bondowoso

Home / Berita / Perjuangan Panjang H Syamsul Tahar, dari Jurnalis Menjadi Anggota DPRD Bondowoso
Perjuangan Panjang H Syamsul Tahar, dari Jurnalis Menjadi Anggota DPRD Bondowoso H Syamsul Tahar anggota DPRD dari Partai PKB bersama keluarga besar saat dilantik di Gedung DPRD Bondowoso (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)

TIMESBONDOWOSO, BONDOWOSO – Adalah H Syamsul Tahar. Salah seorang jurnalis senior di Kabupaten Bondowoso yang dipercaya jadi wakil rakyat di legislatif. Dia satu-satunya ‘kuli tinta’ profesional, yang dilantik jadi anggota DPRD Kabupaten Bondowoso periode 2019-2024, Jumat (23/8/2019).

Capaiannya hari ini merupakan rangkaian panjang dari perjalanan hidupnya. Mulai jadi mahasiswa hingga jadi seorang wartawan. Di kalangan jurnalis, H Tahar dikenal dengan sebutan Pak Kampong.

Syamsul-Tahar-2.jpg

Kepada TIMES Indonesia, H Tahar menceritakan, bahwa karirnya di dunia politik saat ini bukan hasil bimsalabim langsung ada. Tapi penuh perjuangan dan sejarah panjang.

“Saya anak seorang petani, di Desa Tanggul Angin, putra kedua almarhum Abdul Fatah dan Ibu Juhairiyah. Saudara saya itu tujuh. Saudara saya semua perempuan. Masih ada yang pertama Siti Latifah, Samsul Tahar, dan bungsu Maria. Sementara yang lain meninggal semua,” katanya.

Ketika masih kecil H Tahar harus melawan tradisi di kampungnya. Di mana dulu ketika mau melanjutkan sekolah oleh almarhum ayahnya tidak dibolehkan. Karena ada sebuah tradisi, setiap anak lulusan SD diwajibkan oleh orang tuanya untuk memelihara sapi.

Sapi itu nanti sebagai persiapan untuk menikah. Setelah punya rumah, baru menikah atau dinikahkan. Itu tradisi dulu.

Namum di usia yang masih kecil itu, dia berusaha menabrak kebiasaan yang dianggapnya tidak benar tersebut. Dia meyakini apa yang disampaikan ulama, bahwa dengan ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah.

“Saya terus belajar. SD di Tanggul Angin, kemudian melanjutkan SMP Tegalampel lulus 1993, kemudian lanjut ke SMA 3 Bondowoso (sekarang SMA Negeri 1 Tenggarang)," tuturnya.

Syamsul-Tahar-3.jpg

Sebagai anak desa, dia hidup dengan ke kesederhanaan. Sekolahpun hanya punya satu seragam. Sehingga ketika hujan, harus pulang telanjang dada. Sementara seragam dibungkus plastik.

Dengan kendaraan sepeda ontel, dia tak mengeluh dan terus menyibukkan diri untuk belajar. Namun, di tengah kesibukan sekolah, dia tetap membantu orang tua bertani dan memelihara sapi.

“Ketika jadi mahasiswa. Yakni saat liburan pondok, nyampek rumah langsung membantu orang tua memelihara sapi,” kenang pria yang dikenal humble ini.

Lulus SMA, ketua MWCNU Tegalampel ini sempat ikut tes masuk kuliah jalur UMPTN dan diterima di Fakultas Hukum Universitas Jember (Unej).

“Tapi sama almarhum ayah tidak dibolehkan kuliah di Jember. Tapi diwajibkan untuk mondok. Akhirnya memilih mondok sambil kuliah di Nurul Jadid, Probolinggo,” jelasnya.

Namun siapa sangka, kata H Tahar sembari berkaca-kaca, saat semester tiga, ayah tercintanya meninggal dunia. “Saya tak bisa lanjut kalau cerita almarhum,” ucapnya, kemudian tak melanjutkan bercerita.

Sejak kecil H Tahar sudah menunjukkan jiwa organisatorisnya. Saat duduk di Bangku Sekolah Dasar dia aktif di Pramuka. SMP juga di Pramuka. SMA dia aktif di PMR (Palang Merah Remaja), dan Pecinya Alam (PA) atau SPAKA (Siswa Pecinta Alam dan Pejalan Kaki).

Sementara di kampus, dia aktif di intra yakni di Senat Mahasiswa. Sementara di ekstra dia memilih jadi aktivis pergerakan. Yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Bahkan di organisasi bentukan Mahbub Djunaidi ini, karirnya sampai ke tingkat cabang, yaitu bidang advokasi dan hukum. “Nah di situlah saya ditempa secara organisasi,” jelasnya.

Sementara karirnya di dunia tulis-menulis dimulai sejak jadi mahasiswa. Dia aktif di Pers Kampus di Al Fikr, serta di Buletin Kampus.

Lulus kuliah kata dia, H Tahar pulang kampung, dan menikah pada tahun 2001. Kehidupan rumah tangganya betul-betul dimulai dari nol. Saat itu dia belum aktif jadi jurnalis.

“Saya bertani. Kemudian 2004 sesuai dawuh kiai bahwa baru dua tahun orang bisa aktualisasi diri. Sempat mengajar di MTs Miftahul Ulum, menjadi guru,” jelasnya.

Karirnya sebagai jurnalis profesional dimulai di Duta Masyarakat pada tahun 2004. Saat itu dia juga aktif di Pendampingan Masyarakat. Bahkan sempat kuliah pasca Sarjana Hukum di Unej.

Tak berhenti di situ, pada 2014 dia aktif di Harian Bhirawa. Kemudian aktif di media online berjejaring nomor 1 di Indonesia, Times Indonesia pada tahun 2016 sampai 2019.

Total 15 tahun H Syamsul Tahar berkarir di dunia jurnalistik. Sebelum akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Bondowoso pada periode 2019-2024.

“Saya yakin bahwa jurnalis itu menghantarkan kita bisa banyak relasi. Jurnalis itu media untuk meningkatkan jejaring, meningkatkan kapasitas untuk terjun ke dunia yang lebih praktis, lebih eksis,” jelasnya.

Adapun motivasi terjun ke dunia politik, karena dia senang berorganisasi dan mencoba hal baru yang lebih menantang.  “Saya di MWCNU aktif mulai 2003. Sampai sekarang menjadi Ketua,” imbuhnya.

Sebagai orang NU, H Tahar berkomitmen menjadi corong atau penyambung lidah warga Nahdliyin dan masyarakat Bondowoso secara umum di legislatif.

“Tentu bagaimana meningkatkan pengkaderan dan kapasitas melalui jalur-jalur legislatif. Melalui jejaring aspirasi yang tentu akan menjadikan warga NU dan masyarakat Bondowoso pada umumnya semakin berdaya,” tegasnya.

Dalam percaturan politiknya nanti, dia akan tetap jadi politisi yang senantiasa ada dalam bingkai Santri Gus Dur, dan berniat meneruskan perjuangan Gus Dur.

Sebagai warga NU, H Syamsul Tahar menjunjung nilai-nilai ajaran agama dan tradisi ketimuran. Buktinya beberapa saat sebelum dilantik sebagai anggota DPRD Kabupaten Bondowoso periode 2019-2024, dia sempat ziarah ke makam ayahnya, memohon doa dengan mencium kaki ibunya, serta sowan ke mertuanya. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com