Kadinkes Surabaya Angkat Bicara Soal Polemik Klaim Zona Hijau

Home / Berita / Akhirnya Kadinkes Surabaya Angkat Bicara Soal Polemik Klaim Zona Hijau
Akhirnya Kadinkes Surabaya Angkat Bicara Soal Polemik Klaim Zona Hijau Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, Febria Rachmanita (FOTO: liputan6)

TIMESBONDOWOSO, SURABAYA – Pernyataan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat menggelar telekonferen di Balai Kota tentang Surabaya sudah hijau menuai bantahan dari banyak pihak. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita akhirnya angkat bicara terkait klaim zona hijau tersebut.

Ia mengatakan bahwa selama dua minggu terakhir, angka reproduksi efektif (Rt) di Kota Pahlawan sudah terkendali. Mulai yang semula berwarna merah hingga berangsur kuning dan kini sudah dua pekan terakhir berubah menjadi hijau.

Ia memastikan bahwa perubahan warna yang dimaksud bukanlah pada zona, melainkan warna yang terdapat pada Rt tersebut.

Feny, sapaan akrab Febria menjelaskan bahwa selama 14 hari terakhir mulai dari 21 Juli - 3 Agustus, Rt di Surabaya kurang dari angka satu, yang artinya penularan sudah dapat dikendalikan.

“Ingat lho, saya tidak bicara zona. Tetapi bicara Rt yang sudah hijau dengan penularan kasus yang sudah dapat dikendalikan,” kata Febria Rachmanita di Balai Kota Surabaya, Selasa (4/8/2020).

Sementara itu, Epidemiolog Dinkes Kota Surabaya, Rosita Dwi Yuliandari, S.KM., M.Epid menambahkan bahwa angka Rt ini merupakan indikator yang utama untuk mengetahui apakah pandemi terkendali atau tidak. Ia pun menyatakan akan terus memantau kondisi tersebut hari ke hari.

“Makanya, kita pantau terus dan nanti akan kita kolaborasikan untuk menjadi bahan evaluasi dan monitoring kami untuk pemantauan pengendalian kasus tersebut, ” ujarnya.

Mengutip pernyataan anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dr Dewi Nur Aisyah, dalam siaran langsung lewat akun YouTube BNPB Indonesia, Senin (8/6/2020). Terdapat 15 indikator kesehatan yang digunakan pemerintah untuk menentukan zonasi warna Covid-19.

15 indikator kesehatan masyarakat itu terdiri dari 11 indikator epidemiologi, 2 indikator surveilans kesehatan masyarakat, dan 2 pelayanan kesehatan. Berikut adalah 15 indikator tersebut:

1. Penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

2. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

3. Penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

4. Penurunan jumlah meninggal dari kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

6. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)

7. Kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif selama 2 minggu terakhir

8. Kenaikan jumlah selesai pemantauan dan pengawasan dari ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir

9. Penurunan laju insidensi kasus positif per 100.000 penduduk

10. Penurunan angka kematian per 100.000 penduduk

11. Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama 2 minggu

12. Positivity rate <5% (dari seluruh sampel yang diperiksa, proporsi positif hanya 5%)

13. Jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung sampai dengan >20% jumlah pasien positif Covid-19

14. Jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung sampai dengan >20% jumlah ODP, PDP, dan pasien positif Covid-19

15. RT - Angka reproduksi efektif

Terkait klaim zona hijau itu, Kadinkes Kota Surabaya juga mengungkapkan bahwa pihaknya akan gencar melakukan tes swab dan rapid test. Menurutnya tes berperan dalam penurunan angka penularan. Sebab ketika tes dilakukan, maka akan mempercepat deteksi dini. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com